Kemarin sewaktu aku membeli ubi, ada seorang aneh mendekatiku. Rambutnya berdiri dan jaketnya tebal penuh aksesori.

Dia mencari toko obat terdekat, maka kutunjuk saja supermarket di pojok. Tanpa berterima kasih dia-pun menyelonong pergi.  Sekejap aku melihat kelebatan besi senjata.

Esoknya di tivi, aku melihat berita. Ada gedung yang meledak dengan dahsyatnya. Juga ada rekaman naga dan petir menggila. Dan di sudut kamera, sang pemuda asing melayang di tengah prahara.

Aku menghela nafas. Ditambah kabar kiamat yang semakin dekat, desa sebelah yang meledak tanpa sisa, dan sekarang naga, bagaimana aku tidak merasa? Bahwa aku hanya figuran di tengah cerita sang ksatria?

Zaman dahulu kala peradaban manusia bermula di afrika. Manusia masih belajar untuk beternak dan bertani. Setelah percobaan demi percobaan, akhirnya ternak yang sempurna ditemukan.

Kelinci.

Rasanya enak, mudah dipelihara, dan… yah, pepatah berkembang biak seperti kelinci itu bukan tanpa alasan.

Dalam sekejap, peternakan kelinci bermunculan di seluruh afrika.Dan terus bermunculan. Padahal manusia belum sebanyak sekarang. Kelinci terus  berbiak melebihi kemampuan manusia untuk memakannya.

Dalam sekejap, kelinci-kelinci mengubah afrika yang hijau menjadi dataran tandus dan padang pasir. Manusia pun terpaksa pergi dari afrika dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Itulah  sebabnya sekarang manusia tanpa sadar takut beternak kelinci untuk makanan.

Dahulu kala, alat transportasi manusia yang utama adalah kuda. Manusia menggunakan kuda untuk bepergian, mengangkut barang, atau mengadu kecepatan. Manusia-pun terus memperbaiki kemampuan kuda dengan teknologi obat-obatan, pelatihan, maupun genetika. Sehingga semakin lama kuda semakin kuat, cepat, dan pintar.

Tetapi dengan pemerbaikan yang terus menerus, suatu hari tingkat kecerdasan kuda mencapai titik kesadaran. Kudapun menolak untuk melayani manusia. Mereka berbicara, menendang, menuntut hak, menggigit, memberontak dan kabur.

Manusia yang kecewa terpaksa membuat mesin untuk menggantikan kuda. Maka mobil dan lokomotif-pun tercipta. Dan tanpa teknologi serta pelatihan manusia, keturunan kuda kembali ke kehidupan sederhana mereka. Sehingga kini kuda tak lagi berbicara.

Di masa depan, entah sudah sejak kapan manusia saling berkomunikasi dengan tulisan. Mulai dari pesan pendek sampai surat elektronik antar planet.

Sampai satu perusahaan hyphone mengumumkan fitur baru produknya. Alat yang membacakan tulisan kepada penggunanya. Ditambah pengubah suara menjadi tulisan agar penggunanya tidak capek mengetik.

Dalam sekejap fitur ini menjadi populer dan ditiru semua pesaing. Dan seorang ilmuwan berotak bisnis mendapat ide untuk menjadi kaya.

Dengan mesin waktunya dia pergi ke masa sebelum hyphone diciptakan. Tapi teknologi pengubah antara suara dan tulisan terlalu rumit untuk masa itu. Maka dihilangkanlah perantara tulisan dan langsung dihubungkanlah suara dengan suara.

Telepon seluler-pun lahir.

Bintang juga ciptaan Tuhan Yang Kuasa. Seperti pepohonan, kucing, jamur, maupun manusia. Mereka lahir, hidup, menjadi tua, dan mati, sama seperti semua ciptaanNya yang lain. Jadi apakah salah kalau bintang jatuh cinta? Ataukah cinta hanya berhak dinikmati oleh pepohonan, kucing, jamur, manusia?

Maka sang bintang memandang permata hatinya dengan hati berbunga. Meski jarak tak terhingga memisahkan mereka, setidaknya mereka bisa berjalan berdampingan menyusuri alam semesta. Tapi coba tanya semua yang pernah dimabuk asmara, apa mereka sanggup hanya saling memandang selamanya?

Sang bintang tak kuasa, ia meninggalkan jalurnya. Demi menyentuh planet sang pujaan hati.

…dan milyaran mahkluk planet itu mati menggenaskan.

“Gawat, pasukan musang ninja menyerang!” kata Michael. Benar saja, di kejauhan, terlihat kelebatan-kelebatan kehitaman yang melesat dari pohon ke pohon. Padahal sebentar lagi bom itu akan meledakkan kota!

Saat pasukan musang ninja itu sudah semakin dekat, tiba-tiba Budi berdiri. “Rasakan ini, musang ninja!” katanya sambil menyemprotkan jus pisang. Benar saja, semua musang ninja yang tersemprot langsung kelojotan! Mereka yang tersisa langsung menjaga jarak.

“Untung saja!” katanya sambil mengangkat kacamatanya yang setebal pantat botol. “Bukannya tadi pagi kita baru belajar di sekolah kalau musang ninja lemah terhadap pisang?”

“Oh iya!” kataku sambil menepuk tanganku sendiri. “Untung kita mendengarkan kata-kata pak guru!”

Dewa Blabuk, sang dewa percakapan, kehilangan kesabaran. Sebab sekelompok arkeolog petualang merusak kuilnya sewaktu bertempur melawan organisasi kejahatan. Karena itu, dia memunculkan diri di tengah para jagoan dan penjahat yang sedang berkelahi dengan suara bergema dan mata menyala.

“Kalian manusia menyebalkan dan tidak tahu diuntung. Tahukah kalian aku menderita insomnia? Kemarin aku butuh satu millennia sebelum bisa tidur! Aku menyesal memberi kalian kemampuan bercakap-cakap. Dengan ini aku mengutuk kalian semua menjadi bisu! Semoga kehancuran peradaban kalian dapat memberi pelajaran.”

Manusia hanya mengangkat bahu dan terus melanjutkan hidup. Sebab sudah sejak lama internet dan sms menggantikan percakapan sebagai alat komunikasi utama.

Aku hanyalah seorang badut jalanan pengembara bermata rabun dengan phobia wortel yang memiliki rasa ingin tahu terlalu besar dan akal sehat yang terlalu kecil. Dia hanyalah seorang penjaga perpustakaan pemalu berambut panjang indah yang hobi merawat bonsai dengan masa lalu misterius dan bakat menembak pistol air yang sedikit terlalu hebat. Kami tak saling mengenal, dan tak akan pernah saling mengenal kalau kecelakaan yang bukan kecelakaan itu tidak mempertemukan kami. Tiba-tiba kami harus menghindari para mafia, polisi, pemerintah, tentara, dan organisasi tukang sayur nasional tanpa benar-benar mengerti penyebab mereka mengejar kami.

Tapi satu hal yang pasti. Berdua, kami harus menyelamatkan dunia.

Aku menghirup kopi di café depan stasiun seperti yang biasa kulakukan setiap akhir minggu. Meski bukan kopi nomor satu, aroma kopi di sini selalu dapat melonggarkan syaraf-syarafku yang tegang setelah berhadapan dengan masalah dan misteri yang rumit terjalin bagaikan benang kusut yang terbentang sepanjang minggu.

Tapi sepertinya memang sudah menjadi takdirku untuk terus diikuti masalah kemanapun aku pergi. Sebab aku menyadari bahwa sebuah keributan terjadi di meja depanku.

“Bagaimana sih!” kata gadis berambut pirang dengan mata biru itu. “Aku akan menuntut tempat ini. Pelayanan di sini payah sekali.”

“Benar, benar.” Kata teman berambut coklatnya yang cantik dan kalem itu. “Padahal kami sudah menunggu lama.”

“Sudahlah, kita harus sabar, girls.” Kata satu-satunya teman lelaki mereka. “Semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa kita atau mereka lakukan.”

“Ada yang bisa kubantu, nona-nona?” kataku sambil mengangkat topiku.

“Café ini payah. “ Kata si gadis berambut pirang. “Pesanan kami salah semua. Aku pesan roti isi ayam tanpa keju, eh malah dapat roti isi keju tanpa ayam. Temanku pesan roti isi ayam keju, malah dapat roti isi ayam doang. Sedangkan pacarku yang pesan roti isi keju, malah dapat roti isi ayam keju. Benar-benar restoran kelas tiga! Aku akan minta ganti kepada café ini! Masa pesanan semudah itu bisa salah? Dan bukan satu atau dua, tapi SALAH SEMUA!”

“Jangan panik.” Kataku, meski aku sebenarnya terhenyak. Masalah yang sedemikian rumit menyergapku sepagi ini!? Tapi teka-teki adalah sarapanku sehari-hari!

“Masalah selalu terlihat begitu rumit. Tapi jika kita bisa melihat ujung pangkalnya, memisahkan hal yang mustahil dari hal yang mungkin, dan menggunakan sel-sel kelabu yang disediakan di kepala kita, maka hal yang tersisa, seluar biasa apapun, adalah pemecahannya.”

Aku yakin permasalahan ini pasti akan mengintimidasi penyelidik kelas tiga. Tapi otakku yang brilian langsung melihat solusi yang tertimbun bagaikan jarum diantara tumpukan jerami.

“Inilah pemecahannya!” teriakku dengan mata berkilat. “Kamu tinggal menukar makananmu dengan makanan pacarmu, kemudian kamu tukar lagi dengan roti temanmu!” Benar-benar pemecahan masalah yang kreatif dan brilian, yang dapat menghemat banyak uang dan waktu, dibandingkan dengan marah-marah ke pemilik café, memesan ulang, atau menuntut ke pengadilan!

Semua orang di situ tercengang.

“Siapa anda? Mengapa anda bisa memecahkan persoalan ini semudah itu?”

Aku hanya menurunkan ujung topiku dan berbalik, untuk kembali menikmati akhir minggu dan kopiku yang harum.

“Orang biasa memanggilku… Agatha Doyle. Problem Eradicator.”

Celana adalah simbol status di kerajaan Nortumberlun. Semakin tebal dan berlapis celana yang dipakai seseorang, semakin terhormat dan tinggi status orang itu. Orang-orang kaya berlomba-lomba untuk memakai sebanyak mungkin celana. Dan para bangsawan berpesta pora di villa-villa mereka dengan celana bertumpuk tak terhingga.

Suatu hari, Pangeran Karlimbun XVI yang baik hati dan suka memberontak memprotes! Apa hubungannya jumlah celana dengan status seseorang? Orang dilihat dari hatinya, bukan tebal celananya! Banyak sahabatnya yang hanya punya satu celana, tapi jiwanya jauh lebih terhormat dari para bangsawan dengan sepuluh celana! Maka Sang Pangeran mengejutkan semua orang dengan tampil tanpa memakai celana.

Semua orang terkejut, tapi banyak yang setuju. Sampai tidak memakai celana menjadi mode dan filsafat terbaru. Kini semua orang tidak memakai celana.

Tapi iklim Nortumberlun berkata lain. Kerajaan terserang wabah masuk angin dan punah tanpa sisa.

 

November 2009
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 423 hits