Sekali lagi, sang ksatria berdiri di hadapan Raja Naga. Demi menyelamatkan kerajaan, sang penyihir sakti membutuhkan Kristal Naga Emas yang terkunci dalam istana naga. Dan yang boleh memasuki istana naga hanyalah… mereka yang berhasil melewati Ujian Naga…

“Wahai manusia, kamu telah berhasil melewati dua ujian. Sepanjang sejarah kami, hanya dua naga pahlawan yang berhasil sampai sejauh ini. Sekarang waktunya untuk ujian terakhir…

Kamu harus dapat… MENGUPAS TELUR REBUS KERAMAT!”

“Seperti ini?” Tanya sang ksatria lima menit kemudian.

Sang raja naga menghela nafas. “Ujian-ujian ini jauh lebih susah bagi kami yang tidak punya tangan, kau tahu?” katanya sambil menggoyangkan cakar raksasanya.

 

“Kalian semua tahu kenapa kalian dikumpulkan di sini.” Kata detektif polisi Harun kepada orang-orang di hadapannya.  “Tuan Jono memang seorang rentenir yang dibenci semua orang. Karena itu tidak heran dia dibunuh dengan keji. Dia ditusuk pisau dapur, dicekik dengan rantai sepeda, dicekoki racun serangga, dipukuli dengan sepatu, dan pantatnya ditusuki oleh jarum…” Dia berhenti dramatis sebelum melanjutkan. “Pelakunya…  ada di antara kalian, klien-klien Tuan Jono!”

“Apa maksud anda?” Tanya Doni si koki. “Benar!” lanjut Anto sang pemilik bengkel sepeda. Beno sang petani apel dan John sang perajin sepatu menggelengkan kepala, sementara pak tua Chao sang akupunturis terdiam.

“Sebut saja… firasat.”

Pada suatu ketika, hiduplah dua ekor cacing yang saling bersahabat. Mereka bernama Cacinga dan Cacingbe. Suatu hari, Cacinga berkata. “Aku bosan hidup sebagai cacing. Kudengar kalau bertapa kita bisa menjadi manusia!”

Cacinga-pun mulai bersemedi sepenuh hatinya. Sementara Cacingbe, baru sebentar saja sudah bosan, dan langsung kembali bergelimang kotoran kesayangannya. Berwaktu-waktu kemudian, kesungguhan hati Cacinga terbayar. Dia mendapatkan wujud manusia. Baru pertama kali dalam hidupnya dia merasakan manisnya es krim dan gurihnya pizza, sebab cacing tak punya indera perasa seperti manusia. Tapi dia tidak lupa pada sang teman lama. Dengan kesaktian barunya dia-pun menemukan cacing sahabatnya.

“Hey Cacingbe! Ayo hiduplah bersamaku. Jangan bergelimang kotoran saja! Kamu tidak tahu kenikmatan hidup yang sebenarnya.” Katanya sambil membawa semangkuk eskrim.

Awalnya Cacingbe tidak peduli. “Kenapa aku harus peduli? Hidupku sebagai cacing sudah enak! Kotoran ini begitu nyaman dan lezat.” Tapi setelah dibujuk sedemikian rupa pada akhirnya Cacingbe pun terbujuk. “Sini aku coba eskrim yang katamu lebih enak dari kotoran itu!” katanya.

Dan hewan sederhana berdarah dingin itu-pun mati beku dalam sekejap

Kemarin sewaktu aku membeli ubi, ada seorang aneh mendekatiku. Rambutnya berdiri dan jaketnya tebal penuh aksesori.

Dia mencari toko obat terdekat, maka kutunjuk saja supermarket di pojok. Tanpa berterima kasih dia-pun menyelonong pergi.  Sekejap aku melihat kelebatan besi senjata.

Esoknya di tivi, aku melihat berita. Ada gedung yang meledak dengan dahsyatnya. Juga ada rekaman naga dan petir menggila. Dan di sudut kamera, sang pemuda asing melayang di tengah prahara.

Aku menghela nafas. Ditambah kabar kiamat yang semakin dekat, desa sebelah yang meledak tanpa sisa, dan sekarang naga, bagaimana aku tidak merasa? Bahwa aku hanya figuran di tengah cerita sang ksatria?

Zaman dahulu kala peradaban manusia bermula di afrika. Manusia masih belajar untuk beternak dan bertani. Setelah percobaan demi percobaan, akhirnya ternak yang sempurna ditemukan.

Kelinci.

Rasanya enak, mudah dipelihara, dan… yah, pepatah berkembang biak seperti kelinci itu bukan tanpa alasan.

Dalam sekejap, peternakan kelinci bermunculan di seluruh afrika.Dan terus bermunculan. Padahal manusia belum sebanyak sekarang. Kelinci terus  berbiak melebihi kemampuan manusia untuk memakannya.

Dalam sekejap, kelinci-kelinci mengubah afrika yang hijau menjadi dataran tandus dan padang pasir. Manusia pun terpaksa pergi dari afrika dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Itulah  sebabnya sekarang manusia tanpa sadar takut beternak kelinci untuk makanan.

Dahulu kala, alat transportasi manusia yang utama adalah kuda. Manusia menggunakan kuda untuk bepergian, mengangkut barang, atau mengadu kecepatan. Manusia-pun terus memperbaiki kemampuan kuda dengan teknologi obat-obatan, pelatihan, maupun genetika. Sehingga semakin lama kuda semakin kuat, cepat, dan pintar.

Tetapi dengan pemerbaikan yang terus menerus, suatu hari tingkat kecerdasan kuda mencapai titik kesadaran. Kudapun menolak untuk melayani manusia. Mereka berbicara, menendang, menuntut hak, menggigit, memberontak dan kabur.

Manusia yang kecewa terpaksa membuat mesin untuk menggantikan kuda. Maka mobil dan lokomotif-pun tercipta. Dan tanpa teknologi serta pelatihan manusia, keturunan kuda kembali ke kehidupan sederhana mereka. Sehingga kini kuda tak lagi berbicara.

Di masa depan, entah sudah sejak kapan manusia saling berkomunikasi dengan tulisan. Mulai dari pesan pendek sampai surat elektronik antar planet.

Sampai satu perusahaan hyphone mengumumkan fitur baru produknya. Alat yang membacakan tulisan kepada penggunanya. Ditambah pengubah suara menjadi tulisan agar penggunanya tidak capek mengetik.

Dalam sekejap fitur ini menjadi populer dan ditiru semua pesaing. Dan seorang ilmuwan berotak bisnis mendapat ide untuk menjadi kaya.

Dengan mesin waktunya dia pergi ke masa sebelum hyphone diciptakan. Tapi teknologi pengubah antara suara dan tulisan terlalu rumit untuk masa itu. Maka dihilangkanlah perantara tulisan dan langsung dihubungkanlah suara dengan suara.

Telepon seluler-pun lahir.

Bintang juga ciptaan Tuhan Yang Kuasa. Seperti pepohonan, kucing, jamur, maupun manusia. Mereka lahir, hidup, menjadi tua, dan mati, sama seperti semua ciptaanNya yang lain. Jadi apakah salah kalau bintang jatuh cinta? Ataukah cinta hanya berhak dinikmati oleh pepohonan, kucing, jamur, manusia?

Maka sang bintang memandang permata hatinya dengan hati berbunga. Meski jarak tak terhingga memisahkan mereka, setidaknya mereka bisa berjalan berdampingan menyusuri alam semesta. Tapi coba tanya semua yang pernah dimabuk asmara, apa mereka sanggup hanya saling memandang selamanya?

Sang bintang tak kuasa, ia meninggalkan jalurnya. Demi menyentuh planet sang pujaan hati.

…dan milyaran mahkluk planet itu mati menggenaskan.

“Gawat, pasukan musang ninja menyerang!” kata Michael. Benar saja, di kejauhan, terlihat kelebatan-kelebatan kehitaman yang melesat dari pohon ke pohon. Padahal sebentar lagi bom itu akan meledakkan kota!

Saat pasukan musang ninja itu sudah semakin dekat, tiba-tiba Budi berdiri. “Rasakan ini, musang ninja!” katanya sambil menyemprotkan jus pisang. Benar saja, semua musang ninja yang tersemprot langsung kelojotan! Mereka yang tersisa langsung menjaga jarak.

“Untung saja!” katanya sambil mengangkat kacamatanya yang setebal pantat botol. “Bukannya tadi pagi kita baru belajar di sekolah kalau musang ninja lemah terhadap pisang?”

“Oh iya!” kataku sambil menepuk tanganku sendiri. “Untung kita mendengarkan kata-kata pak guru!”

Dewa Blabuk, sang dewa percakapan, kehilangan kesabaran. Sebab sekelompok arkeolog petualang merusak kuilnya sewaktu bertempur melawan organisasi kejahatan. Karena itu, dia memunculkan diri di tengah para jagoan dan penjahat yang sedang berkelahi dengan suara bergema dan mata menyala.

“Kalian manusia menyebalkan dan tidak tahu diuntung. Tahukah kalian aku menderita insomnia? Kemarin aku butuh satu millennia sebelum bisa tidur! Aku menyesal memberi kalian kemampuan bercakap-cakap. Dengan ini aku mengutuk kalian semua menjadi bisu! Semoga kehancuran peradaban kalian dapat memberi pelajaran.”

Manusia hanya mengangkat bahu dan terus melanjutkan hidup. Sebab sudah sejak lama internet dan sms menggantikan percakapan sebagai alat komunikasi utama.

Mei 2017
S S R K J S M
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 777 hits