You are currently browsing the monthly archive for Mei 2008.

Susah, payah, dengan tubuh penuh luka partnerku merayap dan memegang Spatula Emas yang tertancap di dinding tebing.

“Kita berhasil! Spatula Suci ini milik kita!”

“Terkutuklah kalian!” kata sang komandan tentara bayaran. “Tapi jangan senang dulu, artifak berikutnya milik kami!”

“Tunggu deh… tunggu sebentar.” Kataku. “Kalian serius ingin menguasai dunia dengan mengumpulkan 12 artifak dapur maha sakti ini?” kataku. “Sejujurnya rencana itu agak…”

“Yah, memang agak rumit sih.” Kata si komandan. “Tapi aku hanya menurut perintah bos.”

“Lagipula,” lanjutku. “Apa cuma aku yang heran kenapa 12 meteor suci digunakan untuk membuat alat dapur? Apa ancient civilization itu tidak punya kerjaan lain?”

Aku teringat awal petualanganku.

“Aku dewa petualangan memberimu kerikil sakti. Batu ini akan berguna saat kau membutuhkannya”

Tapi kerikil itu tak pernah membantu. Sewaktu terjebak di jurang penuh sapi karnivora? Kerikil itu tidak bereaksi, aku mencari akal sendiri. Waktu bertemu naga? Bahkan tak berguna untuk dilempar. Aku bertempur sendirian.

Akhirnya di akhir perjalanan aku menyadarinya. Batu itu benar-benar membantuku. Dia memberiku kepercayaan diri. Bahwa rintangan ini tidak ada apa-apanya, bahkan batu itu belum perlu digunakan.

Akhirnya dewa petualangan muncul lagi.

“Apa batuku berguna?”

Aku bilang ya.

“Syukurlah. Karena aku lupa bilang cara mengaktifkannya. Sebenarnya batu itu untuk memanggil tentara dewa.”

Samudera bergejolak seakan mencerminkan emosi kedua pihak yang siap saling membunuh.

Aku teringat ramalan itu. Atlantis tidak akan dihancurkan alam. Manusia yang akan melenyapkannya.

“BERHENTI!” kataku selaku pendeta tinggi Atlantis.

Keluarga Verona berhenti dengan sekop nuklir diangkat tinggi. Keluarga Cokrowaskoro diam dengan sikat laser membara di sisi.

“Apa kalian ingat penyebab kalian bermusuhan selama berabad-abad? Kalian saling membunuh tanpa alasan!”

Kali ini kata-kataku berhasil meresap ke hati mereka. Semua menurunkan senjata.

“Bagus… Permusuhan karena berbeda cara makan telur itu sangat…”

“Itu dia! Keluarga Verona makan telur dengan kecap!”

“Keluarga Cokrowaskoro makan telur dengan saos!”

“BUNUH!”

Dan hari itulah atlantis tenggelam.


Seorang ksatria berbaju baja nampak duduk di padang rumput yang luas. Dia membuka matanya dan menatap tumpukan mayat bergelimpangan sejauh mata memandang. Tombak mencuat bagaikan duri, pedang menancap di tubuh-tubuh yang tergeletak tak berdaya

Dia memandang pedang dan baju bajanya. Apa hidup hanya seperti ini?

Pandangannya gelap.

Dia membuka matanya dan menatap mayat yang bergelimpangan di layar komputer. Dia menggeliatkan badannya dan mengambil buku dari atas kasur, yang harus diselesaikannya kalau dia ingin lulus.

Dia memandang buku dan penanya. Apa hidup hanya seperti ini?

Pandangannya gelap.

Dia membuka matanya dan menatap dinding-dinding putih ruang simulator.

Apa hidup hanya seperti ini?

Aku menatap bayanganku di cermin. Perlahan lengkungan mulut benangku berubah menjadi seringai maniak. Mataku bersinar di kegelapan. Warna kesukaanku.

Warna darah….

Aku turun tanpa suara. Inilah keuntungan terbuat dari kain. Selangkah demi selangkah kaki kainku bergerak.

KEMATIAN!

Pintu ruang boneka tertutup. Tapi celah di bawahnya besar bagi boneka kain sepertiku.

Aku merayap…. dan Aku melayang….

Melayang?

“Ibuu…. Bubu bergerak lagi!”

“Ya ampun, dasar boneka bandel. Pasti mau coba bunuh kita lagi. Sini berikan pada Ibu.”

Akupun berpindah tangan di udara. Mau dibawa ke mana aku? Lepaskan! Jangan bawa aku kembali ke neraka itu!

JANGAN MASUKKAN AKU KE MESIN CUCI LAGIIII!!!!

Tidak kusangka aku berhasil menyelinap ke stasiun luar angkasa superseram milik persekutuan pedagang sambel. Pilot sombong yang kusewa itu berjalan di sebelahku, menodong asisten berbulunya sambil bertingkah sewajar mungkin, agar tidak menarik perhatian. Untung seragam stormsquad memakai helm fullface.

Kami tiba di blok penjara. Aku berbisik ke komunikator. “Botbot,” bisikku kepada robotku di ruang control. “Dimana Putri ditahan?”

“Veep” terdengar suaranya. Monitor hologramku menampakkan denah penjara. Semoga Beni tua berhasil mematikan sinar gravitasi. Kalau tidak semua usaha kami akan sia-sia.

Padahal sampai kemarin aku hanya anak petani biasa. Siapa kira aku bakal terlibat perang antara persekutuan pedagang sambel dan pemberontak?

Aku berlari, meloncat, menuruni candi sembari menahan agar topi fedoraku tidak jatuh. Sementara itu agen FBI yang berlari di sebelahku terus bergumam.

“Ini tidak nyata. Sihir itu tipuan. Mahkluk halus itu tidak ada. Paranormal itu bohongan.

Batu di sebelah kami meledak. “Kita baru saja ditembak laser jawa kuno kalau begitu. LASER DARI ZAMAN SYAILENDRA!”

Sementara itu batu-batu terus runtuh di belakang kami. Sang pendeta terus mengucapkan kata-kata dalam bahasa jawi kuno. Keris yang dipegangnya bersinar semakin terang..

“Sekarang apa!” Tanya agen yang telah melupakan segala permusuhannya denganku itu .

“LONCAT!”

Kamipun meloncat…

Coba kameraku masih ada. Pemred ga bakal percaya…

Aku ingat apa yang sering dikatakan ibuku.

“Rajinlah belajar!”

“Jangan percaya sama sembarang orang!”

“Kalau kau bertemu ayahmu di jalan, lempar dengan sepatumu dan suruh pulang!”

Aku jarang menuruti nasehatnya. Tapi sesekali, terutama pada saat-saat seperti ini, aku menyesal.

Seharusnya aku meneruskan pabrik sikat keluarga.

“Clara! Demi segala hal yang suci di dunia, jangan sampai nanas itu jatuh ke tangan para anggota sekte!”

Detektif senior itu terbang terbalik dengan selai melumuri overcoatnya. Sementara anggota sekte kegelapan meraung dengan mata menyala dan nafsu membunuh.

Sementara artifak iblis mereka bergetar penuh dendam.

Ya Tuhan, apa yang baru saja kami lepaskan ini?


Di sebuah hutan, hiduplah sekelompok Serigala. Hewan lain membenci serigala karena mereka rakus dan pemarah. Serigala juga suka mencuri makanan hewan lain.

Suatu hari hewan-hewan di hutan melihat beberapa manusia. Serigala tahu kalau manusia hidup berkelompok. Kalau beberapa manusia terlihat berarti teman-teman mereka akan segera datang. Dan manusia suka berburu hewan.

Para serigala tidak suka bergaul. Meski begitu sebelum pergi mereka sempat memberi tahu penghuni hutan tentang kebiasaan manusia. Tetapi para hewan saling berkata:

“Serigala pencuri dan menyebalkan. Karena itu perkataan mereka tidak mungkin benar.”

Keesokan harinya manusia datang membawa busur dan panah. Dan penghuni hutan habis diburu oleh manusia.

Angin membawa aroma petualangan. Bau rumput hijau yang basah oleh embun, aroma angin laut yang berhembus menyiratkan kebebasan.

Dan garis cakrawala di kejauhan, seakan memanggil kita agar mulai melangkahkan kaki…

Apa kita harus menjadi seorang arkeolog untuk berpetualang? Menjelajahi reruntuhan misterius dewa iblis, mencari artifak legenda dari era yang terlupa.

Atau kita harus berjalan melintas negara? Mendaki gunung-gunung terjal dan menyeberangi padang pasir ganas.

Kemanakah jiwa penuh semangat di masa kecil itu? Saat berkunjung ke kebun binatang adalah petualangan besar nan mendebarkan.

Petualangan adalah cara pandang, bukan jauh perjalanan.

Meski ada kalanya, perjalanan menantang diri sendiri diperlukan oleh hati.