You are currently browsing the monthly archive for Juni 2008.

Waktu terasa mengalir bagaikan karamel kental sementara aku berguling-guling di kamar. Kalau ada drumband lewat kukira bunyinya tidak akan sekeras detak jantungku. Aku membenamkan mukaku yang panas bagai habis disetrika ke bantal. Begini rupanya rasanya.

Setelah hampir kehabisan nafas aku mengangkat muka. Jam dinding yang menatapku tanpa ekspresi. Belum ada lima menit? Orang kurang ajar mana yang menggunakan mesin untuk memperlambat waktu?

Saat handphoneku berdering jantungku serasa berhenti, melompat keluar dari mulut, lalu masuk lagi dari hidung. Aku memegang dadaku, memastikan jantungku masih disana. Dan dengan tangan yang bergetar mirip gerakan kalau kita memegang kabel voltase tinggi, aku mengambil handphoneku.

Aku mengarahkan pistolku ke arah segel yang mulai retak dengan gugup. Letnan Michael menyiapkan senapannya.

“Jadi mahkluk inilah yang membuat dinasti syailendra tiba-tiba musnah dalam sekejap?” tanyaku.

“Benar,” kata arkeolog itu. “Bahkan seluruh kekuatan militer dinasti syailendra tidak berhasil membunuh mahkluk itu. Mereka hanya bisa menyegelnya di dasar Borobudur.”

“…sekarang hanya tiga orang yang tahu…” kata letnan Michael pahit.

Dan mahkluk itu muncul diiringi raungan keras… Tidak ada harapan lagi. Aku mengosongkan pistolku ke arahnya dan Michael memberondongkan senjatanya.

“Setidaknya kita tidak akan mati tanpa bertarung!”

…dan mahkluk itu mati.

“… sepertinya di zaman syailendra belum ada senjata api, nih…”

Sesuatu untuk

Membunuh naga terakhir, kau bilang?

Lebih mudah dari yang kau kira.

Dan aku tidak bercanda

Bawakan aku

Sebotol sinar mentari

Yang dicuri saat malam tiba

Ditambah setetes dentingan harpa

Petikan perawan yang patah hati.

Dan tak boleh lupa

Segenggam nafas terakhir

Orang yang paling kau cintai

Semua diaduk menjadi Satu

Dalam nampan perak perunggu

Dibawah sinar bintang kejora

Sehari Semalam.

Maka kau bisa

Mencelupkan anak panahmu

Yang diberkati musuh besarmu

Maka satu sentuhan sang panah mustika

Akan membunuh sang naga perkasa.

Atau kau bisa membeli bom dan menyelundupkannya ke sarang sang naga waktu dia tidur. Itu juga efektif.

“Jadi, professor. Penemuan apa yang akan anda perkenalkan hari ini sampai anda mengadakan konferensi pers?”

“Ini adalah mesin yang dapat menanggulangi krisis bahan bakar di seluruh dunia. Mesin ini dapat mengubah air menjadi bahan bakar minyak!”

“Bagaimana cara kerjanya?”

“Itu rahasia perusahaan. Kalau saya beri tahu nanti semua orang bisa meniru. Tapi saya bisa memperlihatkan mesin ini bekerja! Cukup masukkan Air di lubang A. Masukkan bensin di lubang B. Nyalakan mesinnya. Voila! Bahan bakar minyak keluar dari lubang C! Mesin ini akan mendapatkan hadiah nobel!”

“Uh.. professor… Bukannya itu bensin yang masuk dari lubang B tadi?”

“Diam! Kamu cuma iri!”

Aku duduk di kelas dan menghela nafas. Kemudian aku tertawa kecil.

“Heh, kamu pernah nggak,” kataku pada teman semejaku. “Mimpi sudah bangun dan melakukan aktifitas Kemudian kamu bangun beneran dengan kaget dan sadar ternyata kamu masih di tempat tidur.”

“Kukira aku kesiangan, makanya aku buru-buru berangkat nggak pakai mikir dan siap-siap. Rupanya ini cuma mimpi.” Kataku sambil bersandar dengan lega. “Sekarang tinggal tunggu bangun.”

“Kenapa kamu tahu ini cuma mimpi?” Tanya temanku.

“Karena aku nggak pakai celana” kataku sambil tertawa, menunjuk bagian bawahku yang hanya ditutupi celana dalam.

“Dude… ini bukan mimpi. Kamu memang pergi ke sekolah nggak pakai celana…”

*Warning: Pokemon Reference Abound*

Hatiku langsung ciut saat berhadap-hadapan dengan Brook, sang duelis elemen batu. Dia tampak ramah, tapi aku tahu pengalaman bertarungku jauh di bawahnya.

“Bersiaplah anak muda!” teriaknya, dan kamipun mengambil kuda-kuda duel. Adrenalinku memuncak, dan pikiranku bekerja. Satu-satunya cara menang adalah adu strategi!

“Let’s Duel!”

“Batu, Gunting, Kertas!” teriak kami bersamaan. Pemandangan sekitarku kabur, sorak sorai penonton hilang. Inilah duel suit!

“Berhasil!” aku berteriak. Aku menang pertarungan pertama! Tapi ini duel ‘best-of-three!’

Lagi! Dia duelis elemen batu, maka aku harus mengeluarkan kertas…

Aku menang! Lencana Batu ada di genggamanku!

Lututku langsung lemas. Tapi ini hanyalah langkah pertama dalam liga suit nasional!

“Percayalah padaku, ada dunia di luar sana!” teriakku lagi.

“Diam. Sang dewa telah melindungi dan mengajari desa ini sejak bergenerasi-generasi yang lalu. Beliau mengajari kita cara bercocok tanam di gua, cara melindungi diri dari hewan bawah tanah. Dan terutama, beliau selalu menekankan. Kita tidak boleh keluar.” kata tetua keras kepala.

“Dia dewa palsu! Aku menemukan kalau dia cuma mesin kuno sisa perang nenek moyang kita.”

Darahku mendidih mengingat kekolotan penduduk desa. Aku akan membuktikannya, aku sudah diluar!

Lihat. Ada langit seperti yang digambarkan di dokumen kuno! Ada pohon… tunggu, kenapa aku susah bernafas? Kenapa pandanganku kabur? Kenapa… tubuhku… lemas…

With another, longer version in Writer Tavern

———

Setiap hari pulang pergi dia melewati toko bunga itu. Sambil termangu, di bis yang berjalan lambat dan dipenuhi asap, dia memandang bunga-bunga sederhana yang belepotan jelaga kota.

Seberat apapun harinya dia akan tersenyum saat melewati toko, melihat bunga-bunga yang berdiri menantang kemuraman kota. Sesekali dia melihat sekilas celemek putih. Atau kelebatan gaun sederhana sang floris misterius .

Setiap hari dia bertekad turun dan menyapa sang penjual bunga. Tapi hari berganti dan rencana tetap rencana. Dia menyadari, toko itu telah tiada.

Kini rambutnya telah memutih dan dia tidak bekerja. Tapi sesekali dia masih naik sembarang bis, tersenyum dan berharap sambil bernostalgia.

Ada sebuah dunia diluar pemahaman manusia biasa. Dunia gelap, rumit, penuh bahaya dan tanpa logika. Dunia di balik bayangan. Aku adalah seorang penduduk biasa. Aku hidup tanpa pernah menyadari akan keberadaan dunia lain di luar pengertianku itu. Sampai suatu hari, saat aku dipaksa keluar dari tempurungku dan berhadapan dengan semua itu untuk pertama kalinya.

Saat aku berjalan di gang-gang sepi menuju kantor pemerintahan, aku tidak pernah membayangkan hidupku akan berubah selamanya. Menuju tempat aku terpaksa mempertahankan kewarasanku di labirin bayangan non geometris, tempat orang mencakar dinding sia-sia.

Padahal aku hanya ingin membuat dokumen!

Dunia Labirin Bayangan Penuh Kegilaan Birokrasi Pemerintahan.

“Lalu akhirnya para petualang tiba di gedung markas sang iblis. Dengan kekuatan persahabatan, cinta, dan kebenaran mereka bertarung sekuat tenaga. Gagah berani meski sang iblis lebih mengerikan dari mimpi terburuk mereka. Takdir berkata mereka akan kalah, tapi mereka bilang, “kamilah yang akan membuat takdir kami sendiri! Dengan usaha, semangat, kerja keras, dan pikiran.” Strategi sang penyihir untuk menyerang titik kelemahan iblis berhasil, dan mereka akhirnya menang.

“Lalu mereka hidup bahagia selamanya?”

“Tidak juga. Karena ini dongeng modern saat mereka pulang tiba-tiba salju longsor dan menimpa mereka. Bukan apa-apa, Cuma menunjukkan tentang kekuatan alam yang diatas manusia dan alam memang kejam”