You are currently browsing the monthly archive for September 2008.

Andi melihat orang itu menari di pagi hari.

Sorenya orang itu masih menari.

Setiap hari dari Senin sampai Minggu, orang itu menari sendiri sementara semua orang berjalan tanpa henti.

Maka suatu siang Andi bertanya.

“Pak, kenapa anda menari?”

Orang itu menjawab tanpa melihat. “Saya sudah lupa. Tapi saya harus terus menari.”

“Tidak bosankah anda menari? Tidak inginkah anda berhenti?”

“Saya tidak tahu, tapi saya tidak boleh berhenti.”

Andi mengulurkan tangannya dan tersenyum. “Ayo berhentilah menari’

Orang itu tertegun. Kemudian perlahan, dia berhenti menari.

Dan dia berjalan bersama Andi yang kini mulai menari.

Berjalan sendiri sementara semua orang menari tanpa bisa berhenti

Kini tinggal aku dan dia.

Dan nasib seluruh alam semesta beserta isinya.

Ajaran guruku terngiang-ngiang di kepalaku. Perjalanan jauhku terulang-ulang di ingatanku.

Tanpa sadar aku menggumamkan litani yang kukira telah lama kulupakan.

Aku tidak melihat dengan mataku. Dia yang melihat dengan mata akan terjebak ilusi kehidupan. Aku melihat dengan hatiku.

Aku tidak memotong dengan sebilah besi. Dia yang memotong dengan alat akan terjebak ilusi kehidupan. Aku memotong dengan hatiku.

Tubuh, alat, dan sasaran adalah satu. Semua perbedaan hanya ilusi.

Tanpa suara, tanpa cahaya. Hanya satu gerakan.

Aku berbalik. Tanpa melihat aku sudah tahu. Omelet yang sempurna. Alam semesta terselamatkan.

Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya. Hijau kuning kelabu. Merah muda dan biru. Tapi aku tersandung. Dan balon hijau melayang.

Balon hijau terbang tinggi di langit yang biru. Balon hijau terdeteksi radar negara besar. Negara besar yang selalu takut akan teroris. Dan selalu bersiap perang.

Negara besar mengirim sinyal. Untuk balon hijau yang tak kelihatan dari bawah. Tapi balon hijau tak bisa menjawab. Negara besar menembak balon hijau dengan peluru kendali.

Rudal melayang menuju balon hijau.

Negara tetangga melihat peluru kendali terbang ke arah mereka. Negara tetangga juga penakut. Negara tetangga balas meluncurkan peluru kendali mereka.

Balon hijauku memulai perang nuklir.

Di depanku, terbentang masa laluku.

Di belakangku, berlalu masa depanku.

Apa aku memilih untuk berhenti. Dan meneruskan hidup dengan masa depan yang baru? Atau meneruskan perjalanan. Menuju masa lalu yang tak kuketahui?

Seringkali aku tergoda untuk menghentikan perjalanan panjangku. Tapi betapapun hebatnya godaan Hutan Cinta Yang Mungkin Terjadi. Atau tipuan Taman Bunga Mawar Nostalgia. Tak dapat dibandingkan dengan saat kini aku berdiri di puncak gersang Gunung Masa Depan Yang Belum Terisi.

Kalau saja aku tahu apa yang hilang. Mungkin aku bisa memilih. Tapi kini aku hanya bisa melangkah maju. Menuju tujuan akhir perjalananku.

Menuju Lembah Masa Lalu Yang Telah Hilang.

Bawang putih gundah gulana.
Sebab tak ada yang mau bermain dengannya.
Padahal dia baik hati.
Dan mengandung banyak zat yang berguna.
Mulai anti kuman alami.
Sampai pencegah kanker.

Bawang putih terus berpikir.
Kenapa aku dibenci?
Apa karena bauku?
Atau rasa pedasku?

Bawang putih mengembara dengan sedih.
Mencari teman sejati.
Sekadar untuk bermain catur.
Atau menonton bola bersama.
Tapi jauh dia berjalan.
Tak kunjung mencapai tujuan.

Bawang putih akhirnya berjumpa.
Seorang penulis simpatik.
Sang penulis membuat buku.
Tentang kebaikan bawang putih.

Kini bawang putih.
Dikejar dan diburu.
Untuk dipotong, diparut, ditusuk,
dicincang, dibakar, direbus.
Ditarik, dikupas, dikuliti hidup-hidup.
Demi kesehatan manusia.

“Baik, aku mengerti kalau bos-bos bandit kota Jakarta terkadang berkumpul,” kataku sambil mengacungkan senjata.

“Tapi kalau ini sebenarnya perkumpulan rahasia yang diam-diam mengendalikan dunia kejahatan balik layar? Dengan markas rahasia di bawah tanah? Kata sandi yang harus diucapkan sebelum masuk? Topeng hitam yang dipakai tiap anggota dalam rapat? Apa-apaan, memangnya ini film murahan?”

“Yah, pak detektif,” kata orang yang mengangkat tangan di hadapanku. “Coba saja anda pikir. Memangnya ada yang bakal percaya kalau ada organisasi seperti ini di dunia nyata? Coba saja anda lapor ke komandan anda.”

“Sial, benar juga. Kalau ada yang cerita padaku aku juga nggak bakal percaya.”

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 778 hits