You are currently browsing the monthly archive for November 2008.

“Donato! Menyerahlah, kamu telah terkepung.”

Sang roti bundar mundur ke tembok“Sial. Kapten Wortel dan Pasukan Makanan Sehat! Dimana rekan-rekanku?”

“Semua rekan teroris penghancur gigi dan pembuat gemukmu telah kami kalahkan. Kini tinggal kamu sendiri.”

Donato menjatuhkan peluncur coklatnya dan tersenyum pahit. “Kalian tidak mengerti. Ini demi kebaikan kota ini.”

“Apa maksudmu?” salah satu sayur terlihat mulai ragu.

“Dasar diktator-diktator berpikiran pendek… Bangsa kue, gorengan, dan manisan tidak sepenuhnya buruk! Sesehat apapun kalian, rasisme bertangan besi kalian telah mematikan selera dan semangat kota ini!”

Terdengar suara tembakan.

Kapten wortel mengembalikan pistolnya ke saku. “Jangan dengarkan propaganda teroris itu…” katanya tanpa ekspresi.

“Kita kekurangan garpu”

“Baik, semua tidak usah panik. Aku perlu tujuh belas paket tusuk gigi baru beserta kotaknya, sepasang sendok, pisau daging, dua piring kaleng, tali, natrium karbonat, soda kue, sodium benzoat, koran bekas, ditambah sekantong karet gelang. Dan seseorang tolong ambilkan pisau lipat swiss dan teropong dari jaketku di gantungan baju.

Kamu! Bantu aku menyambungkan karet gelang dan pisau di meja makan paling kanan. Berdasarkan teori Newton, aku akan membuat… hei, kenapa tusuk gigi yang sudah capek-capek kususun ditendang?

“Nak, ambil uang ayah di meja dan belikan garpu di toko. Dan Mac, kamu ga akan kuundang makan malam lagi.”

Sang pangeran mimpi jatuh cinta pada gadis manusia. Setiap malam dia berdansa dan tertawa bersama sang pujaan hati. Tapi begitu sang gadis bangun, dunia buyar kembali. Dan sang pangeran melayang sendiri, menunggu sang gadis terlelap lagi.

Cinta membuat buta, dan sang pangeran putus asa. Tapi dia tak bisa muncul di alam nyata. Maka dia meminta penyihir. Untuk membuat karangan bunga. Mawar merah pengantar tidur abadi.

Sang gadis-pun terlelap selamanya. Tapi betapa kagetnya sang pangeran. Saat dia tak lagi bisa memasuki mimpi sang gadis. Sebab sang gadis yang tak bisa terbangun lagi. Tak dapat lagi menyadari kalau kini dia sedang bermimpi.

Entah kenapa saya capek menulis cerita 100 kata. Mungkin mulai sekarang sesekali saya akan menulis cerita yang agak panjang disini.

Pada zaman dahulu tersebutlah sebuah negeri yang makmur dan damai. Alamnya elok, penduduknya ramai, para penyihirnya terkenal sampai ke negeri seberang dan para pelajarnya tersebar di seluruh dunia. Negeri itu diperintah oleh seorang raja yang gagah dan dihormati oleh seluruh raja-raja tetangga. Suatu hari sang raja melihat ke luar jendela istananya. Dia melihat pasar yang ramai oleh pedagang dari berbagai negeri, jalan yang sibuk dengan berbagai kendaraan, dan para prajuritnya yang kuat berderap. Namun dia merasa tidak puas. Sebab dia tahu, negerinya yang besar suatu hari akan lenyap juga.

Maka dia memanggil seluruh penyihirnya dan meminta mereka semua memanggil jin terkuat yang mereka bisa. Setelah upacara tujuh hari tujuh malam, terpanggillah jin paling kuat yang pernah dipanggil manusia.

Sang raja berkata. “Wahai Jin, negeri ini besar dan makmur. Namun segala hal yang hidup akhirnya akan musnah. Aku ingin negeri ini tetap abadi sebagai negeri yang jaya selamanya.

Sang jin menjawab. “Wahai raja. Bahkan jin terkuatpun tak akan mampu melawan hukum yang kuasa. Sebab kematian adalah kodrat alam. Bahkan suatu saat akupun akan mati.”

Namun sang raja tak peduli. Dia akan memberi sang jin apapun yang dia minta, bahkan nyawanya sekalipun, asal permintaannya terpenuhi. Maka sang jin mengucapkan manteranya.

Tanpa aba-aba, sebuah batu raksasa jatuh dari langit dan menghancurkan negeri itu beserta segala isinya.

Kini negeri itu sudah tak bersisa sama sekali. Tapi semua orang masih mengingat hari terakhir negeri itu. Kotanya yang besar. Pasarnya yang ramai. Angkatan perangnya yang berwibawa. Negeri yang makmur dan jaya yang terus diingat semua orang sepanjang masa. Negeri yang abadi dalam kenangan.

Mereka membenci cahaya. Setitik cahaya sekecil apapun mengusik mereka. Itu sebabnya mereka menutup langit terlebih dahulu.

Kini semua gelap. Tak ada lagi yang tersisa. Kecuali aku.

Aku bisa merasakan mereka di sekelilingku. Tapi aku aman. Selama sepeda ini masih kukayuh, lampunya akan tetap menyala.

Aku tidak menyesal telah membunuh Budi. Aku memerlukan sepeda ini. Tadinya aku sedih setelah mendorong Vina. Tapi dia memberati sepeda. Dan sepeda yang berat membuatku cepat lelah.

Tapi teriakannya memang keras. Makanya aku masih ingat sampai sekarang.

Aku aman selama kakiku terus mengayuh pedal. Aku aman selama dinamo sepeda masih berputar.

Tapi sekarang aku ingin minum.

Hari ini tak ada yang terjadi. Hujan turun, dedaunan gugur. Orang berjalan dan orang tidur.

Hari ini hari yang sepi. Mobil berjalan dan berbelok di tikungan. Tukang nasi goreng beradu teriak dengan penjual tahu.

Seperti seharusnya hari-hari berlalu. Makanan dimasak dan minuman diseduh. Kotoran disapu dan sampah terbakar.

Terbakar oleh senjata laser alien yang datang kemarin. Yang bertarung melawan monster raksasa setinggi gedung.  Padahal runtuhan minggu lalu masih tersisa. Sisa pasukan tengkorak yang kembali memicu perang antar benua.

Setidaknya sampah mereka akan disapu. Oleh Tsunami yang bakal datang  besok lusa.

Biasanya sesuatu terjadi.

Tapi hari ini tak ada yang terjadi.

Aku suka pada matanya. Mengingatkanku pada cakrawala, langit, awan. Pada permen strawberry dan hujan yang menyentuh tanah.

Suaranya selalu membuatku rindu. Bagaikan aroma buku yang baru dibeli. Bagai mawar tak berbobot, bagai tembakan duri. Jangan salahkan jika aku sering menggoda. Hanya untuk mendengarkan nada-nada cemberutnya.

Tawanya mengingatkanku pada suara ribuan kupu-kupu di balik tirai. Senyumnya bagai kilap sepatu senin pagi. Entah dia tertawa bersamaku. Atau tertawa kearahku.

Dia bagai elektron. Bagai es krim, bagai benua. Bagai biskuit bundar manis yang dicelup susu.

Tapi aku baru sadar telah jatuh cinta. Saat aku kehabisan metafora. Meski aku punya alam semesta dan seisinya.

Ada hal-hal yang tidak bisa dimengerti manusia. Bukan salah kita, hanya saja memang kemampuan kita terbatas. Hey, memangnya kamu bakal menyalahkan bakteri kalau dia tidak mengerti dengan jalan pikiran kita? Apa kamu pernah menanyakan perasaan bakteri sewaktu kamu membersihkan toilet dengan disinfektan?

Tapi bahkan bakteri punya jauh lebih banyak persamaan dengan kita dibandingkan mereka. Setidaknya bakteri dan kita berada di Xylmbq yang sama.

Apa itu Xylmbq? Maat, terlalu panjang untuk dijelaskan. Yang jelas, kini aku tidak pernah lagi membuat susu coklat. Kenapa mereka yang menganggap manusia lebih rendah dari bakteri datang setiap aku membuat susu coklat hanya mereka yang tahu.

November 2008
S S R K J S M
« Sep   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Blog Stats

  • 777 hits