You are currently browsing the monthly archive for Desember 2008.

Setelah mendaki gunung tinggi dan menyusuri jurang dalam, sang ksatria akhirnya tiba di taman bunga impian. Perjalanannya hampir berakhir. Tapi entah karena godaan iblis atau kelelahan batin, sang ksatria memutuskan untuk beristirahat di kebun terlarang.

Dia memetik satu buah yang terlihat paling ranum, padahal ahli nujum kerajaan telah memperingatkan agar tidak mengambil apapun dari taman itu. Asap mengepul dan jin raksasa melayang menertawakannya.

“Wahai ksatria. Kau telah memetik buah simalakama. Sekarang kau harus memilih. Apabila kau memakannya, ayahmu akan mati. Tapi jika kau tidak memakannya, ibumu akan mati… putus asalah!”

“Yah…” kata sang ksatria di sela-sela kunyahannya. “Ayahku orang brengsek.”

Iklan

Ada orang yang memang punya kisah untuk diceritakan. Karena itu dia menulis.

Tapi banyak orang yang ingin menulis padahal tidak punya cerita. Ingin menulis meskipun dia tidak punya kisah. Karena itu dia bingung mau menulis apa. Karena itu dia mencari kisah untuk diceritakan. Karena itu dia frustasi.

Dia hanya berkata “Saya ingin menjadi penulis. Saya ingin menulis sesuatu!”

Dia duduk di depan meja dan memegang kepalanya. Dia duduk di atas kursi sambil menatap kertasnya yang kosong.

Dia lupa, sebelum mulai menulis, dia harus memikirkan apa sebenarnya yang ingin ditulisnya.

Dia juga lupa, bahwa setiap orang pasti punya kisah untuk diceritakan.

Senjata kami berkilau disinari cahaya matahari. Rambutku berkibar tertiup angin yang membawa aroma kemenangan. Aku mengangkat pedang besarku dan berteriak menyemangati. “Jangan takut! Kerajaan ini sudah terlalu lama menekan rakyatnya. Demi kebebasan!”

Aku berlari bersama pasukanku untuk menyambut pasukan kerajaan yang maju dengan formasi kaku. Komandan pasukan raja terlihat berlari mengenakan baju besinya yang konyol. Dengan satu teriakan dahsyat, aku menghantamnya.

“Matilah, anjing kerajaan!”

Aky mengayunkan pedang, menebas, dan…

“Kenapa… ?” Aku jatuh sambil memegang luka yang menganga di dadaku. “Bukannya… di cerita semacam ini… jagoannya pasti menang?”

Ksatria berbaju besi itu menyarungkan pedangnya.

“Maaf… Kali ini, pemberontak adalah penjahatnya.”

“Kau yakin mau melakukannya?” Tanya kapten kapal di tengah gemuruh ombak. Aku menggeleng. “Tapi sudah kepalang tanggung” kataku sambil nyengir. Dan ini adalah mimpiku, cita-citaku, takdirku.

“Semoga beruntung.” Kapten memotong talinya. Dan balon udaraku membubung. Tak terlihat apapun di sekelilingku selain titik kapal ditengah air yang tak berbatas, dibawah langit yang tak bermula. Dan disisi ujung dunia yang membentang.

Aku memasang kacamataku dan menyalakan mesin. Garis samudera yang terpatah terlihat sejauh mata memandang, melengkung datar membatasi piringan dunia. Gemuruh air tak terhingga yang terjun bebas memekakkan telinga sementara aku terbang melintas.

Melintasi akhir dunia, menuju tempat yang belum pernah terimpikan.

“Lari! Ada anak setan!”

Aku mengalihkan perhatian dari bekal yang sedang kumakan ke arah anak-anak yang sedang bermain di lapangan. Terlihat beberapa anak berlari menjauh, tertawa dan menunjuk kea rah seorang anak kumal yang baru datang. Anak kumal itu hanya memandang yang lain sambil meremas-remas baju.

“Hei, apa maksudnya ini!” tegurku. Sebagai seorang pengembara, entah kenapa sudah menjadi hak tak tertulisku untuk ikut campur tanpa diminta dalam segala hal.

“Dia anak setan.” Kata salah seorang bocah, sementara yang lain masih sibuk berteriak dan mengejek. “Ibunya mati saat melahirkannya. Ayahnya jadi gila dan mati juga. Kata Papaku, itu karena dia setan! Lihat saja warna kulitnya yang beda dengan kami. Atau rambutnya. Pasti itu keturunan setan!”

Aku menggelengkan kepala. “Jangan bilang begitu! Dia manusia juga seperti kita! Coba lihat. Matanya sama ada dua, tangannya sama berjari lima. Malah, seharusnya kalian berteman dengannya. Coba bayangkan bagaimana kalau kalian nggak punya ayah dan ibu, lalu diperlakukan begini setiap hari!”

“Tapi kata ayah dia monster.” Kata anak lain.

“Tahu darimana? Apa kalian pernah bergaul dengannya?”

Aku memanggil si anak setan mendekat. Yang lain mulai ragu, tapi masih bergerak menjauh. Aku menggelengkan kepala. Aku tidak bisa memaksa. Meski begitu, anak-anak seumuran ini masih polos, dan tidak akan lama sampai mereka bisa bergaul. Salah satu dari anak yang mengejeknya tadi mendekat dan pelan-pelan mengulurkan tangan. Aku tersenyum. Sebentar saja yang lain mulai ikut.

“Begitu dong. Pada mau es krim kan? Kakak traktir ya.”

Aku meninggalkan lapangan itu sejenak untuk membeli es. Saat aku kembali dengan sekeranjang es krim, lapangan itu terlihat sepi. Hanya ada anak kumal itu yang berdiri sendiri. Aku jadi khawatir. Apa anak-anak itu mengejek dan meninggalkannya lagi? Tapi anak kumal itu terlihat celingak celinguk, dan aku melihat satu-dua sepatu tertinggal di rerumputan. Aku tersenyum. Mereka hanya main petak umpet.

“Senang mainnya?” tanyaku kepada anak kumal itu.

Anak itu nyengir dan menatapku dengan matanya yang merah. Darah menetes dari gigi-giginya yang bagaikan pisau belati. Entah kenapa… aku tahu itu bukan darahnya.

A/N: Not exactly 100 word.

Di sebuah peternakan hiduplah dua ekor sapi. Setiap hari mereka memakan rumput yang telah tersedia, bekerja sesuai jadwal, kemudian tidur di kandang.

Suatu hari salah satu sapi berkata. “Tidakkah kamu bosan hidup seperti ini? Rumput di sini mulai terasa hambar. Hidup disini juga membosankan. Ayo kita keluar dari sini dan hidup bebas!”

Sapi kedua menjawab. “Apa kamu bosan hidup? Disini makanan tersedia. Tempat tinggal tersedia. Kita dijaga oleh paga-pagar. Apa lagi yang kita perlukan?”

Tapi tekad sapi pertama sudah bulat. Suatu hari dia mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya. Diapun berpetualang dengan bebas di alam, memakan rumput dan tanaman liar yang serba baru, menghindari pemangsa dengan keberanian dan kecerdikan, dan melihat dunia. Tapi suatu dia menatap bulan dan berpikir.

“Ternyata lama kelamaan semua rumput rasanya sama saja. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkan peternakan. Disana aku hidup teratur, tentram, tidak perlu memikirkan apa aku bisa bertahan hidup hari ini.”

Di peternakan sahabatnya melihat bulan perak yang sama.

“Seharusnya aku ikut dia dan pergi dari sini. Disini memang aman dan teratur, tapi rumput terasa hambar dan hidup terasa membosankan…”

Lately, I often saw that kid. From his clothing, I guess he’s one of those young adventurers that are common these days.

“Why are you adventuring, lad?” I asked one day as he ate. For some reason, this kid attracted my attention.

“Dreams. Do you have hope and dreams, old man?” He asked me back in a mysterious tone.

The question surprised me and felt strangely nostalgic. “I had. But I guess I’ve lost them.”

“Dreams are never truly lost.” His eyes wandered to the blue sky outside. “They are just forgotten, buried, deep inside this place that I’m looking for. The cave of broken dreams.”

Sepatu-sepatu memberontak karena bosan diinjak manusia. Tak ada yang tahu bagaimana mereka bisa mendapat jiwa. Tiba-tiba saja pada suatu pagi semua sepatu, sandal, beserta bakiak dan segala saudaranya hidup dan sibuk berbicara.

Tapi sayang mereka tidak bisa bergerak mandiri.Hanya bisa berpindah tempat jika dibawa manusia.. Maka mereka diam-diam menyusun rencana. Mereka akan pura-pura bisu seperti biasa. Agar manusia memakai mereka seperti yang biasa terjadi setiap hari. Sementara mereka mencari cara untuk melawan manusia.

Hari berganti, sepatu dan sandal terus pura-pura mati. Menunggu kesempatan yang entah kapan bisa terjadi. Sementara manusia terus memakai sepatu tanpa peduli. Sama saja seperti sebelum revolusi.

A/N: Sehari aja ditinggal, langsung keterusan.

Di suatu tempat, hiduplah dua pohon kacang. Suatu hari mereka mendengar dari rumput yang bergoyang kalau manusia akan datang dan memakan mereka.

Kacang pertama pasrah saat tangan-tangan dingin manusia mencabutnya dari tanah dan merebusnya di kuali penuh air mendidih yang berbuih tanpa ampun.

Kacang kedua tidak mau menyerah begitu saja. Sang kacang membuat sebanyak mungkin sianida di bijinya (karena setiap kacang memang bisa menghasilkan racun sianida) sebelum dia dicabut. Manusia yang memakannya pun mati.

Manusia-pun membuang semua biji, keluarga, dan anak kacang kedua untuk mencegah varietasnya berkembang. Sementara itu keluarga kacang pertama ditanam di semua tempat dan berbiak dengan bahagia.

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 778 hits