Pada suatu hari di hutan raya, Si Kancil sedang berjalan-jalan. Dia baru saja makan ayam Pak Tani, jadi perutnya kenyang dan hatinya riang. Tapi tiba-tiba, sekelebat bayangan meloncat dari balik pohon dan menangkapnya.

“Hei Kancil! Kamu sepertinya gemuk dan enak. Kamu akan kumakan” Kata Harimau.

Kancil sempat panik sebentar. Tapi lalu dia berkata. “Hei Harimau. Terserah saja kalau kau mau memakanku. Sejujurnya aku mulai bosan hidup. Setiap hari aku hanya makan dan tidur dan makan tanpa berusaha. Lihat saja badanku yang montok ini. Ini semua gara-gara taman surga tersembunyi itu.”

Harimau yang sudah hamper menggigit leher kancil menghentikan giginya. Dibandingkan kancil, badannya kurus dan bulunya kusam. Harimau berpikir sejenak. Kancil ini memang gemuk, tapi paling Cuma cukup untuk sekali makan. Maka dia bertanya.
“Hei Kancil. Apa maksudmu dengan taman surga tersembunyi?”
“Oh Harimau. Sebenarnya aku menemukan taman tersembunyi rahasia Nabi Sulaiman. Di situ penuh berbagai makanan dan minuman untuk segala jenis hewan. Kita tinggal makan tanpa capek mencari. Awalnya aku senang bisa makan di situ setiap hari. Tapi lama kelamaan hidupku jadi terasa membosankan. Aku lebih suka kalau harus mencari makanan lagi. Kalau mau aku bisa menunjukkan tempatnya. Setelah itu kau bisa memakanku.”

Harimau berpikir sebentar. Meskipun Kancil berbohong, dia masih bisa menerkamnya dengan mudah. Harimaupun menjawab. “Oke Kancil. Tunjukkan tempat taman surga itu. Tapi jangan coba-coba kabur.” Kancilpun menuntun harimau yang terus bersiap menerkamnya. Dia tidak terburu-buru ataupun mencoba kabur.
Pohon-pohon menjadi jarang dan mereka tiba di sebuah tempat yang terbuka. Hanya semak belukar dan pohon kecil yang masih tersisa. Kancil lewat di sela-selanya, dan Harimau melangkah di antara mereka. Harimau dapat mencium banyak bau buah-buahan dan mangsa. “Sebentar lagi kita sampai” kata Kancil.

“ADA HARIMAU! ADA HARIMAU!” teriak Pak Tani. Penduduk desa keluar membawa tali dan tombak. Ada yang membawa bedil. Harimau panik dan mengaum. Sebelum dia sempat lari, penduduk desa menembaknya. Semua menjadi gelap bagi harimau.

Kancil lari di sela-sela tanaman timun sambil tertawa cekikikan.

Sementara itu di tengah hutan, dua anak harimau kurus saling berdekapan di sarang mereka yang sempit.

“Ibu kok belum pulang ya?” anak harimau yang lebih kecil bertanya lirih.

“Jangan kuatir dik,” kata saudaranya. “Kata ibu, hari ini dia akan membawa makanan yang enak. Sabar ya,” katanya sambil memeluk adiknya.

Mereka berdua menatap awan yang berarak pelan, menunggu ibu yang mereka sayangi .

Iklan