Aku menghirup kopi di café depan stasiun seperti yang biasa kulakukan setiap akhir minggu. Meski bukan kopi nomor satu, aroma kopi di sini selalu dapat melonggarkan syaraf-syarafku yang tegang setelah berhadapan dengan masalah dan misteri yang rumit terjalin bagaikan benang kusut yang terbentang sepanjang minggu.

Tapi sepertinya memang sudah menjadi takdirku untuk terus diikuti masalah kemanapun aku pergi. Sebab aku menyadari bahwa sebuah keributan terjadi di meja depanku.

“Bagaimana sih!” kata gadis berambut pirang dengan mata biru itu. “Aku akan menuntut tempat ini. Pelayanan di sini payah sekali.”

“Benar, benar.” Kata teman berambut coklatnya yang cantik dan kalem itu. “Padahal kami sudah menunggu lama.”

“Sudahlah, kita harus sabar, girls.” Kata satu-satunya teman lelaki mereka. “Semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa kita atau mereka lakukan.”

“Ada yang bisa kubantu, nona-nona?” kataku sambil mengangkat topiku.

“Café ini payah. “ Kata si gadis berambut pirang. “Pesanan kami salah semua. Aku pesan roti isi ayam tanpa keju, eh malah dapat roti isi keju tanpa ayam. Temanku pesan roti isi ayam keju, malah dapat roti isi ayam doang. Sedangkan pacarku yang pesan roti isi keju, malah dapat roti isi ayam keju. Benar-benar restoran kelas tiga! Aku akan minta ganti kepada café ini! Masa pesanan semudah itu bisa salah? Dan bukan satu atau dua, tapi SALAH SEMUA!”

“Jangan panik.” Kataku, meski aku sebenarnya terhenyak. Masalah yang sedemikian rumit menyergapku sepagi ini!? Tapi teka-teki adalah sarapanku sehari-hari!

“Masalah selalu terlihat begitu rumit. Tapi jika kita bisa melihat ujung pangkalnya, memisahkan hal yang mustahil dari hal yang mungkin, dan menggunakan sel-sel kelabu yang disediakan di kepala kita, maka hal yang tersisa, seluar biasa apapun, adalah pemecahannya.”

Aku yakin permasalahan ini pasti akan mengintimidasi penyelidik kelas tiga. Tapi otakku yang brilian langsung melihat solusi yang tertimbun bagaikan jarum diantara tumpukan jerami.

“Inilah pemecahannya!” teriakku dengan mata berkilat. “Kamu tinggal menukar makananmu dengan makanan pacarmu, kemudian kamu tukar lagi dengan roti temanmu!” Benar-benar pemecahan masalah yang kreatif dan brilian, yang dapat menghemat banyak uang dan waktu, dibandingkan dengan marah-marah ke pemilik café, memesan ulang, atau menuntut ke pengadilan!

Semua orang di situ tercengang.

“Siapa anda? Mengapa anda bisa memecahkan persoalan ini semudah itu?”

Aku hanya menurunkan ujung topiku dan berbalik, untuk kembali menikmati akhir minggu dan kopiku yang harum.

“Orang biasa memanggilku… Agatha Doyle. Problem Eradicator.”

Iklan