You are currently browsing the monthly archive for November 2011.

Sekali lagi, sang ksatria berdiri di hadapan Raja Naga. Demi menyelamatkan kerajaan, sang penyihir sakti membutuhkan Kristal Naga Emas yang terkunci dalam istana naga. Dan yang boleh memasuki istana naga hanyalah… mereka yang berhasil melewati Ujian Naga…

“Wahai manusia, kamu telah berhasil melewati dua ujian. Sepanjang sejarah kami, hanya dua naga pahlawan yang berhasil sampai sejauh ini. Sekarang waktunya untuk ujian terakhir…

Kamu harus dapat… MENGUPAS TELUR REBUS KERAMAT!”

“Seperti ini?” Tanya sang ksatria lima menit kemudian.

Sang raja naga menghela nafas. “Ujian-ujian ini jauh lebih susah bagi kami yang tidak punya tangan, kau tahu?” katanya sambil menggoyangkan cakar raksasanya.

 

Iklan

“Kalian semua tahu kenapa kalian dikumpulkan di sini.” Kata detektif polisi Harun kepada orang-orang di hadapannya.  “Tuan Jono memang seorang rentenir yang dibenci semua orang. Karena itu tidak heran dia dibunuh dengan keji. Dia ditusuk pisau dapur, dicekik dengan rantai sepeda, dicekoki racun serangga, dipukuli dengan sepatu, dan pantatnya ditusuki oleh jarum…” Dia berhenti dramatis sebelum melanjutkan. “Pelakunya…  ada di antara kalian, klien-klien Tuan Jono!”

“Apa maksud anda?” Tanya Doni si koki. “Benar!” lanjut Anto sang pemilik bengkel sepeda. Beno sang petani apel dan John sang perajin sepatu menggelengkan kepala, sementara pak tua Chao sang akupunturis terdiam.

“Sebut saja… firasat.”

Pada suatu ketika, hiduplah dua ekor cacing yang saling bersahabat. Mereka bernama Cacinga dan Cacingbe. Suatu hari, Cacinga berkata. “Aku bosan hidup sebagai cacing. Kudengar kalau bertapa kita bisa menjadi manusia!”

Cacinga-pun mulai bersemedi sepenuh hatinya. Sementara Cacingbe, baru sebentar saja sudah bosan, dan langsung kembali bergelimang kotoran kesayangannya. Berwaktu-waktu kemudian, kesungguhan hati Cacinga terbayar. Dia mendapatkan wujud manusia. Baru pertama kali dalam hidupnya dia merasakan manisnya es krim dan gurihnya pizza, sebab cacing tak punya indera perasa seperti manusia. Tapi dia tidak lupa pada sang teman lama. Dengan kesaktian barunya dia-pun menemukan cacing sahabatnya.

“Hey Cacingbe! Ayo hiduplah bersamaku. Jangan bergelimang kotoran saja! Kamu tidak tahu kenikmatan hidup yang sebenarnya.” Katanya sambil membawa semangkuk eskrim.

Awalnya Cacingbe tidak peduli. “Kenapa aku harus peduli? Hidupku sebagai cacing sudah enak! Kotoran ini begitu nyaman dan lezat.” Tapi setelah dibujuk sedemikian rupa pada akhirnya Cacingbe pun terbujuk. “Sini aku coba eskrim yang katamu lebih enak dari kotoran itu!” katanya.

Dan hewan sederhana berdarah dingin itu-pun mati beku dalam sekejap

November 2011
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 778 hits