You are currently browsing the category archive for the ‘non 100 words’ category.

Pada suatu ketika, hiduplah dua ekor cacing yang saling bersahabat. Mereka bernama Cacinga dan Cacingbe. Suatu hari, Cacinga berkata. “Aku bosan hidup sebagai cacing. Kudengar kalau bertapa kita bisa menjadi manusia!”

Cacinga-pun mulai bersemedi sepenuh hatinya. Sementara Cacingbe, baru sebentar saja sudah bosan, dan langsung kembali bergelimang kotoran kesayangannya. Berwaktu-waktu kemudian, kesungguhan hati Cacinga terbayar. Dia mendapatkan wujud manusia. Baru pertama kali dalam hidupnya dia merasakan manisnya es krim dan gurihnya pizza, sebab cacing tak punya indera perasa seperti manusia. Tapi dia tidak lupa pada sang teman lama. Dengan kesaktian barunya dia-pun menemukan cacing sahabatnya.

“Hey Cacingbe! Ayo hiduplah bersamaku. Jangan bergelimang kotoran saja! Kamu tidak tahu kenikmatan hidup yang sebenarnya.” Katanya sambil membawa semangkuk eskrim.

Awalnya Cacingbe tidak peduli. “Kenapa aku harus peduli? Hidupku sebagai cacing sudah enak! Kotoran ini begitu nyaman dan lezat.” Tapi setelah dibujuk sedemikian rupa pada akhirnya Cacingbe pun terbujuk. “Sini aku coba eskrim yang katamu lebih enak dari kotoran itu!” katanya.

Dan hewan sederhana berdarah dingin itu-pun mati beku dalam sekejap

Aku menghirup kopi di café depan stasiun seperti yang biasa kulakukan setiap akhir minggu. Meski bukan kopi nomor satu, aroma kopi di sini selalu dapat melonggarkan syaraf-syarafku yang tegang setelah berhadapan dengan masalah dan misteri yang rumit terjalin bagaikan benang kusut yang terbentang sepanjang minggu.

Tapi sepertinya memang sudah menjadi takdirku untuk terus diikuti masalah kemanapun aku pergi. Sebab aku menyadari bahwa sebuah keributan terjadi di meja depanku.

“Bagaimana sih!” kata gadis berambut pirang dengan mata biru itu. “Aku akan menuntut tempat ini. Pelayanan di sini payah sekali.”

“Benar, benar.” Kata teman berambut coklatnya yang cantik dan kalem itu. “Padahal kami sudah menunggu lama.”

“Sudahlah, kita harus sabar, girls.” Kata satu-satunya teman lelaki mereka. “Semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa kita atau mereka lakukan.”

“Ada yang bisa kubantu, nona-nona?” kataku sambil mengangkat topiku.

“Café ini payah. “ Kata si gadis berambut pirang. “Pesanan kami salah semua. Aku pesan roti isi ayam tanpa keju, eh malah dapat roti isi keju tanpa ayam. Temanku pesan roti isi ayam keju, malah dapat roti isi ayam doang. Sedangkan pacarku yang pesan roti isi keju, malah dapat roti isi ayam keju. Benar-benar restoran kelas tiga! Aku akan minta ganti kepada café ini! Masa pesanan semudah itu bisa salah? Dan bukan satu atau dua, tapi SALAH SEMUA!”

“Jangan panik.” Kataku, meski aku sebenarnya terhenyak. Masalah yang sedemikian rumit menyergapku sepagi ini!? Tapi teka-teki adalah sarapanku sehari-hari!

“Masalah selalu terlihat begitu rumit. Tapi jika kita bisa melihat ujung pangkalnya, memisahkan hal yang mustahil dari hal yang mungkin, dan menggunakan sel-sel kelabu yang disediakan di kepala kita, maka hal yang tersisa, seluar biasa apapun, adalah pemecahannya.”

Aku yakin permasalahan ini pasti akan mengintimidasi penyelidik kelas tiga. Tapi otakku yang brilian langsung melihat solusi yang tertimbun bagaikan jarum diantara tumpukan jerami.

“Inilah pemecahannya!” teriakku dengan mata berkilat. “Kamu tinggal menukar makananmu dengan makanan pacarmu, kemudian kamu tukar lagi dengan roti temanmu!” Benar-benar pemecahan masalah yang kreatif dan brilian, yang dapat menghemat banyak uang dan waktu, dibandingkan dengan marah-marah ke pemilik café, memesan ulang, atau menuntut ke pengadilan!

Semua orang di situ tercengang.

“Siapa anda? Mengapa anda bisa memecahkan persoalan ini semudah itu?”

Aku hanya menurunkan ujung topiku dan berbalik, untuk kembali menikmati akhir minggu dan kopiku yang harum.

“Orang biasa memanggilku… Agatha Doyle. Problem Eradicator.”

Celana adalah simbol status di kerajaan Nortumberlun. Semakin tebal dan berlapis celana yang dipakai seseorang, semakin terhormat dan tinggi status orang itu. Orang-orang kaya berlomba-lomba untuk memakai sebanyak mungkin celana. Dan para bangsawan berpesta pora di villa-villa mereka dengan celana bertumpuk tak terhingga.

Suatu hari, Pangeran Karlimbun XVI yang baik hati dan suka memberontak memprotes! Apa hubungannya jumlah celana dengan status seseorang? Orang dilihat dari hatinya, bukan tebal celananya! Banyak sahabatnya yang hanya punya satu celana, tapi jiwanya jauh lebih terhormat dari para bangsawan dengan sepuluh celana! Maka Sang Pangeran mengejutkan semua orang dengan tampil tanpa memakai celana.

Semua orang terkejut, tapi banyak yang setuju. Sampai tidak memakai celana menjadi mode dan filsafat terbaru. Kini semua orang tidak memakai celana.

Tapi iklim Nortumberlun berkata lain. Kerajaan terserang wabah masuk angin dan punah tanpa sisa.

Angin berhembus membawa aroma gunung. Aku duduk di teras, memandang awan yang berarak dan lampu kota yang menyala seirama dengan terbenamnya matahari, bagaikan rombongan kunang-kunang yang tiba-tiba dibangunkan oleh datangnya malam.

Aku tersenyum sembari menghirup teh yang harum. Sepengetahuanku tak ada lagi manusia yang tersisa di daerah ini selain aku, tapi lampu-lampu itu akan otomatis mati dan menyala sesuai jadwal. Ribuan tahun setelah aku mati-pun, lampu-lampu itu akan terus beraktivitas sesuai jadwal.

Seharusnya aku turun ke bawah untuk mengambil perbekalan, tapi entah kenapa hari ini aku malas. Biarlah, aku tak akan kehabisan makanan. Satu-dua pengelana yang lewat tidak akan menghabiskan isi kota.

Jangkrik mulai berbunyi dan aku tiduran sambil menatap bulan. Ternyata beginilah rasanya akhir dunia. Seperti selimut hangat yang mengantarkanmu tidur.

Goyangan-goyangan di bahu membangunkan Edi dari mimpi indahnya. Dia mendapati jenggot lebat Kapten Von Houten di hadapannya.

“Ada apa kapten?” kata pemuda itu. Dia menghela nafas. Padahal dia baru saja bermimpi dia telah berhasil pulang ke rumah dan tidak terlibat lagi dengan semua petualangan gila ini.

“Coba lihat ke luar jendela, bocah.” Kata sang kapten. “Kukira hal ini akan membuatmu tertarik.”

Edi melihat ke luar jendela kokpit Phinisi. Awalnya hanya lautan bintang yang terlihat mengelilingi kapal kargo antar planet itu, pemandangan yang sama seperti berjam-jam yang lalu. Tapi sesuatu terlihat membentang berkilo-kilometer dibawah lunas kapal.

“Luar biasa…” kata Edi.

Suara berat sang kapten terdengar.

“Selama ratusan tahun, kapal demi kapal bertemu untuk beraktivitas bersama. Perlahan, satu-dua kapal mulai menggabungkan diri secara permanen. Lama kelamaan makin banyak kapal yang bergabung dan berjalan bersama. Kapal-kapal lain yang tidak berminat bergabung pun mulai sering singgah untuk membeli perbekalan atau beristirahat bersama rombongan kapal ini. Dan kini…”

Edi menempelkan kepalanya ke jendela. Lusinan, puluhan, bahkan ratusan kapal terlihat mengarungi bimasakti bersama. Sebagian tertambat dengan rantai nanocarbon. Banyak yang tersambung satu sama lain dengan jembatan-jembatan shuttledock, saling menyilang bagai jaring laba-laba raksasa yang mengapung di lautan bintang. Kapal luar angkasa besar dan kecil nampak berlalu lalang kesana kemari, sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Secara keseluruhan, semuanya terlihat semrawut, tak teratur, saling tumpang tindih seenaknya. Namun semuanya membentang sejauh mata dapat memandang, penuh cahaya dan aktivitas.

“Keajaiban era koloni.” kata sang kapten sambil menghisap cerutunya dalam-dalam.

“Neo Batavia.”

Langit memerah seakan ingin ikut bergabung dengan lautan darah yang akan segera membanjir. Pasukan android zombie komunis kegelapan dari neraka terlihat menutupi horizon, membentang sejauh mata dapat memandang, didampingi oleh squadron monyet ninja pemakan daging yang selalu setia menemani sang jendral iblis.

Dunbin Mcleod berdiri di atas tembok benteng Pororoka, benteng pertahanan terakhir aliansi manusia. Di belakangnya Putri Mercedesia memandang dengan khawatir bersama pasukan terakhir aliansi.

”Pergilah Putri. Kaulah harapan terakhir manusia. Hanya kau yang bisa membangkitkan sepatu suci itu. Aku akan menahan mereka.”

”Bagaimana kami… aku bisa meninggalkanmu sendiri?” kata sang putri.

Hal-hal kasar yang selalu diteriakkan sang putri pada awal pertemuan mereka, petualangan-petualangan yang mereka alami berdua, malam di bawah lautan bintang itu, semua terulang kembali di ingatan mereka bagai film yang diputar dengan kecepatan tinggi.

Satu ciuman. Air mata menetes.

Dan sang ksatria meloncat menuju kematian yang pasti dan menyakitkan diiringi petir yang menyambar.

Pada suatu hari di hutan raya, Si Kancil sedang berjalan-jalan. Dia baru saja makan ayam Pak Tani, jadi perutnya kenyang dan hatinya riang. Tapi tiba-tiba, sekelebat bayangan meloncat dari balik pohon dan menangkapnya.

“Hei Kancil! Kamu sepertinya gemuk dan enak. Kamu akan kumakan” Kata Harimau.

Kancil sempat panik sebentar. Tapi lalu dia berkata. “Hei Harimau. Terserah saja kalau kau mau memakanku. Sejujurnya aku mulai bosan hidup. Setiap hari aku hanya makan dan tidur dan makan tanpa berusaha. Lihat saja badanku yang montok ini. Ini semua gara-gara taman surga tersembunyi itu.”

Harimau yang sudah hamper menggigit leher kancil menghentikan giginya. Dibandingkan kancil, badannya kurus dan bulunya kusam. Harimau berpikir sejenak. Kancil ini memang gemuk, tapi paling Cuma cukup untuk sekali makan. Maka dia bertanya.
“Hei Kancil. Apa maksudmu dengan taman surga tersembunyi?”
“Oh Harimau. Sebenarnya aku menemukan taman tersembunyi rahasia Nabi Sulaiman. Di situ penuh berbagai makanan dan minuman untuk segala jenis hewan. Kita tinggal makan tanpa capek mencari. Awalnya aku senang bisa makan di situ setiap hari. Tapi lama kelamaan hidupku jadi terasa membosankan. Aku lebih suka kalau harus mencari makanan lagi. Kalau mau aku bisa menunjukkan tempatnya. Setelah itu kau bisa memakanku.”

Harimau berpikir sebentar. Meskipun Kancil berbohong, dia masih bisa menerkamnya dengan mudah. Harimaupun menjawab. “Oke Kancil. Tunjukkan tempat taman surga itu. Tapi jangan coba-coba kabur.” Kancilpun menuntun harimau yang terus bersiap menerkamnya. Dia tidak terburu-buru ataupun mencoba kabur.
Pohon-pohon menjadi jarang dan mereka tiba di sebuah tempat yang terbuka. Hanya semak belukar dan pohon kecil yang masih tersisa. Kancil lewat di sela-selanya, dan Harimau melangkah di antara mereka. Harimau dapat mencium banyak bau buah-buahan dan mangsa. “Sebentar lagi kita sampai” kata Kancil.

“ADA HARIMAU! ADA HARIMAU!” teriak Pak Tani. Penduduk desa keluar membawa tali dan tombak. Ada yang membawa bedil. Harimau panik dan mengaum. Sebelum dia sempat lari, penduduk desa menembaknya. Semua menjadi gelap bagi harimau.

Kancil lari di sela-sela tanaman timun sambil tertawa cekikikan.

Sementara itu di tengah hutan, dua anak harimau kurus saling berdekapan di sarang mereka yang sempit.

“Ibu kok belum pulang ya?” anak harimau yang lebih kecil bertanya lirih.

“Jangan kuatir dik,” kata saudaranya. “Kata ibu, hari ini dia akan membawa makanan yang enak. Sabar ya,” katanya sambil memeluk adiknya.

Mereka berdua menatap awan yang berarak pelan, menunggu ibu yang mereka sayangi .

“Lari! Ada anak setan!”

Aku mengalihkan perhatian dari bekal yang sedang kumakan ke arah anak-anak yang sedang bermain di lapangan. Terlihat beberapa anak berlari menjauh, tertawa dan menunjuk kea rah seorang anak kumal yang baru datang. Anak kumal itu hanya memandang yang lain sambil meremas-remas baju.

“Hei, apa maksudnya ini!” tegurku. Sebagai seorang pengembara, entah kenapa sudah menjadi hak tak tertulisku untuk ikut campur tanpa diminta dalam segala hal.

“Dia anak setan.” Kata salah seorang bocah, sementara yang lain masih sibuk berteriak dan mengejek. “Ibunya mati saat melahirkannya. Ayahnya jadi gila dan mati juga. Kata Papaku, itu karena dia setan! Lihat saja warna kulitnya yang beda dengan kami. Atau rambutnya. Pasti itu keturunan setan!”

Aku menggelengkan kepala. “Jangan bilang begitu! Dia manusia juga seperti kita! Coba lihat. Matanya sama ada dua, tangannya sama berjari lima. Malah, seharusnya kalian berteman dengannya. Coba bayangkan bagaimana kalau kalian nggak punya ayah dan ibu, lalu diperlakukan begini setiap hari!”

“Tapi kata ayah dia monster.” Kata anak lain.

“Tahu darimana? Apa kalian pernah bergaul dengannya?”

Aku memanggil si anak setan mendekat. Yang lain mulai ragu, tapi masih bergerak menjauh. Aku menggelengkan kepala. Aku tidak bisa memaksa. Meski begitu, anak-anak seumuran ini masih polos, dan tidak akan lama sampai mereka bisa bergaul. Salah satu dari anak yang mengejeknya tadi mendekat dan pelan-pelan mengulurkan tangan. Aku tersenyum. Sebentar saja yang lain mulai ikut.

“Begitu dong. Pada mau es krim kan? Kakak traktir ya.”

Aku meninggalkan lapangan itu sejenak untuk membeli es. Saat aku kembali dengan sekeranjang es krim, lapangan itu terlihat sepi. Hanya ada anak kumal itu yang berdiri sendiri. Aku jadi khawatir. Apa anak-anak itu mengejek dan meninggalkannya lagi? Tapi anak kumal itu terlihat celingak celinguk, dan aku melihat satu-dua sepatu tertinggal di rerumputan. Aku tersenyum. Mereka hanya main petak umpet.

“Senang mainnya?” tanyaku kepada anak kumal itu.

Anak itu nyengir dan menatapku dengan matanya yang merah. Darah menetes dari gigi-giginya yang bagaikan pisau belati. Entah kenapa… aku tahu itu bukan darahnya.

A/N: Not exactly 100 word.

Di sebuah peternakan hiduplah dua ekor sapi. Setiap hari mereka memakan rumput yang telah tersedia, bekerja sesuai jadwal, kemudian tidur di kandang.

Suatu hari salah satu sapi berkata. “Tidakkah kamu bosan hidup seperti ini? Rumput di sini mulai terasa hambar. Hidup disini juga membosankan. Ayo kita keluar dari sini dan hidup bebas!”

Sapi kedua menjawab. “Apa kamu bosan hidup? Disini makanan tersedia. Tempat tinggal tersedia. Kita dijaga oleh paga-pagar. Apa lagi yang kita perlukan?”

Tapi tekad sapi pertama sudah bulat. Suatu hari dia mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya. Diapun berpetualang dengan bebas di alam, memakan rumput dan tanaman liar yang serba baru, menghindari pemangsa dengan keberanian dan kecerdikan, dan melihat dunia. Tapi suatu dia menatap bulan dan berpikir.

“Ternyata lama kelamaan semua rumput rasanya sama saja. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkan peternakan. Disana aku hidup teratur, tentram, tidak perlu memikirkan apa aku bisa bertahan hidup hari ini.”

Di peternakan sahabatnya melihat bulan perak yang sama.

“Seharusnya aku ikut dia dan pergi dari sini. Disini memang aman dan teratur, tapi rumput terasa hambar dan hidup terasa membosankan…”

Mei 2017
S S R K J S M
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 777 hits